Pages

Sunday, 30 July 2017

Hapus Tetanus



Proses melahirkan dapat juga berbahaya, bahkan yang dilakukan di rumah sakit yang paling steril sekalipun. Namun demikian, lingkungan dan kondisi yang tidak higienis menambah ancaman mematikan bagi bayi, yaitu tetanus pada bayi baru lahir atau neonatal. Pada Jumat, 21 Juli 2017 dalam ‘Latest news WHO : Discovering who misses out on health: the example of Indonesia’, kita mendapat pelajaran dari keberhasilan program penghapusan tetanus neonatal. Apa yang sebaiknya diketahui?

Tetanus neonatal kerap disebut ‘silent killer’, karena penyakit ini menyebabkan banyak bayi baru lahir meninggal secara cepat di rumah. Penghapusan tetanus neonatal berarti bahwa kejadian tetanus pada bayi baru lahir telah dikurangi menjadi kurang dari 1 kasus per 1.000 kelahiran hidup, pada semua kabupaten di seluruh negara. Tetanus neonatal dapat dicegah dengan vaksin yang murah, namun wanita yang miskin atau tinggal di daerah terpencil seringkali kekurangan akses terhadap layanan penting seperti imunisasi tetanus, sehingga berisiko lebih besar untuk meninggal.

Program imunisasi Tetanus Toksoid (TT) pada wanita usia subur telah menghilangkan tetanus neonatal pada bayi baru lahir, di tiga wilayah pada empat kepulauan yang luas di Indonesia. Namun demikian, cakupan vaksinasi yang lebih rendah di wilayah yang paling miskin, yaitu di Propinsi Papua, menandakan bahwa tetanus neonatal tersebut tetap menjadi ancaman utama di sana. Pada Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2016, jumlah ibu hamil yang diberikan imunisasi TT adalah 3.263.992 atau 61,44% dari total ibu hamil di Indonesia. Sedangkan di Papua, dari 78.157 ibu hamil, tidak ada seorangpun ibu hamil yang diberikan imunisasi TT.

Jumlah total kasus tetanus neonatorum tahun 2016 adalah 14 kasus, yaitu terjadi di Kalimantan Barat (4 kasus), Papua (3),  Sumatera Selatan (3), Aceh (2), Sumatera Barat (1) dan Gorontalo (1). Jumlah kasus meninggal adalah 6 bayi dengan Case Fatality Rate 42,9%. Faktor Risiko terjadinya tetanus neonatorum meliputi Pemeriksaan Kehamilan Rutin secara Tradisional (5 kasus), Status Imunisasi ibu Tidak Diimunisasi TT (8 kasus), Penolong Persalinan secara Tradisional (9), Perawatan Tali Pusat secara Tradisional (7), dan Pemotongan Tali dengan Bambu (8). Setelah upaya pemerintah Indonesia memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan di daerah terpencil dan untuk meningkatkan tingkat vaksinasi di daerah yang paling kurang beruntung, Indonesia dinyatakan telah menghapuskan tetanus neonatal pada Sabtu, 21 Mei 2016 yang lalu. Hal ini berarti kurang dari satu kasus tetanus neonatal terjadi per 1000 jiwa Kelahiran di setiap kabupaten.

"Menghilangkan tetanus merupakan prestasi besar bagi Indonesia," kata Dr. Jihane Tawilah, wakil WHO di Indonesia. "Tetanus neonatal adalah simbol ketidaksetaraan layanan kesehatan (health inequality), termasuk penduduk termiskin dan paling tidak berpendidikan." Indonesia adalah satu dari sekian banyak negara yang telah bekerja keras untuk memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan bagi warga yang paling tidak beruntung, sebagai bagian dari komitmennya untuk "tidak meninggalkan siapa pun di belakang" (leave no one behind) dalam mengejar Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). 

Pada akhir 1980-an secara global diperkirakan masih terjadi 787.000 kematian neonatal setiap tahunnya, yang disebabkan oleh tetanus. Lima puluh tahun kemudian, vaksin yang terjangkau dan efektif telah tersedia, setelah adanya  resolusi ‘World Health Assembly’ 1989, yang menyerukan untuk penghapusan tetanus neonatal. Resulosi juga menargetkan penurunan angka kematian bayi baru lahir menjadi sekitar 200.000 pada tahun 2000, bahkan penurunan lebih lanjut menjadi hanya 49.000 kematian pada tahun 2013. Data menunjukkan bahwa kematian bayi tahunan karena tetanus neonatal pada tahun 2014 secara global, telah turun menjadi hanya sekitar 59.000, dari 790.000 kematian pada tahun 1988. Terdapat 59 negara yang diklasifikasikan sebagai prioritas tinggi untuk penghapusan tetanus neonatal pada tahun 2000 dan 38 negara ini telah mencapai eliminasi pada akhir 2015. Secara global, 130 juta perempuan usia reproduksi telah diberikan setidaknya dua dosis vaksin tetanus toxoid (TT), melalui kampanye vaksinasi antara 1999 dan 2015. 

Fakta penghausan tetanus neonatal ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki komitmen dan kepemimpinan yang kuat yang membantu meningkatkan akses imunisasi, pelayanan antenatal dan pertolongan persalinan oleh tenaga terampil, khususnya untuk populasi yang paling rentan, yaitu orang miskin, masyarakat terpencil dan terisolasi, di mana higienis kebidanan, praktek postnatal dan pelayanan kesehatan lainnya yang belum optimal. Keberhasilan mencapai eliminasi tetanus neonatal di Indonesia, telah memberi alasan bagi seluruh dunia untuk optimis. Sudahkah kita terlibat?

fx. wikan indrarto
dokter spesialis anak di RS Siloam@LippoPlaza dan RS Panti Rapih, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM,

No comments:

Post a Comment

GPT Protective Partition pada Hard disk

  Terkadang, setelah menyambungkan hard disk internal atau eksternal ke sistem Anda, Disk Management Windows memberi tahu bahwa hard disk te...